Pages

Showing posts with label Invest. Show all posts
Showing posts with label Invest. Show all posts

Wednesday, January 29, 2014

Beli Reksa Dana Di mana?

Membeli reksa dana bisa dilakukan di Sekuritas, Manajer Investasi, dan Bank. Berikut penjelaskannya:
1. Sekuritas
Sekuritas atau yang sering disebut sebagai perusahaan efek adalah pihak yang melakukan kegiatan usaha dan memiliki izin Otoritas Jasa Keuangan sebagai Penjamin Emisi Efek (PEE), Perantara Pedagang Efek (PPE), dan atau Manajer Investasi (MI). Tidak semua sekuritas melakukan tiga jenis kegiatan usaha tersebut.

Di sekuritas, Anda bisa beli saham, obligasi dan reksa dana. Namun, setahu saya di sekuritas, Anda hanya bisa beli produk reksa dana yang dimiliki oleh Manajer Investasi mereka sendiri. Misal, di Danareksa Sekuritas, Anda hanya bisa beli produk reksa dana miliki Danareksa Investment Management. Pada umumnya, sekuritas lebih banyak digunakan investor untuk membeli saham dan obligasi.

Jika ingin membeli reksa dana melalui sekuritas, Anda harus membuka rekening efek terlebih dahulu. Untuk membuka rekening pertama kali di kebanyakan sekuritas biasanya Rp5 juta. Menurut saya, jika hanya ingin membeli reksa dana, sebaiknya melalui MI atau bank saja. Berikut data perusahaan efek yang terdaftar di OJK :

2. Manajer Investasi
Manajer Investasi berbeda dengan sekuritas. Di MI, Anda hanya bisa membeli produk reksa dana yang mereka miliki. Karena menjual produknya secara langsung, pada umumnya fee-pembelian dan penjualan yang dikenakan di MI biasanya terbilang lebih kecil daripada di bank.
Berikut daftar Manajer investasi yang terdaftar di OJK : http://aria.bapepam.go.id/

3. Bank
Anda juga bisa membeli reksa dana di bank. Tidak semua bank menjual reksa dana karena bank yang bisa menjual reksa dana hanyalah bank yang memiliki izin sebagai Agen Penjual Reksa dana (APERD). Salah satu kelebihan membeli produk reksa dana di bank ialah, aksesnya yang lebih mudah karena cabang bank jauh lebih banyak dari MI. Selain itu, produk reksa dana yang ditawarkan juga lebih beragam, tidak hanya dari satu MI.

Namun, karena merupakan agen, fee yang dikenakan untuk pembelian reksa dana di bank lebih besar daripada di MI. Biasanya fee pembelian reksa dana di bank berkisar 1%-2%. Namun, menurut saya perbedaannya tidak terlalu signifikan. Karena kalau pun membeli reksa dana di MI, jika bank kustodian-nya berbeda dengan rekening bank yang kita miliki, toh tetap harus mengeluarkan biaya transfer setiap kali menyetor. Namun, Anda tetap harus berhitung cermat. 
Berikut daftar bank yang menjadi Agen Penjual Reksa Dana: http://www.bapepam.go.id/

    Saat ini semakin banyak MI atau pun bank yang memiliki program autoinvest reksa dana. Sistem autoinvest sangat membantu bagi Anda yang ingin berinvestasi secara rutin dan lebih disiplin. Setiap bulan, rekening anda akan otomatis di autodebet untuk membeli produk reksa dana yang telah Anda pilih. Untuk investasi dengan autoinvest ini, tidaklah memerlukan uang dalam jumlah yang besar, yakni dari Rp50 ribu per bulan/ produk reksa dana.


Investasi tidak harus dimulai dengan nominal besar. Buat Anda yang telah berpenghasilan, tentu nominal Rp50 ribu atau Rp100 ribu per bulan tentu bukan nilai yang besar. Toh, sekali ngopi saja sekarang sudah Rp50 ribu. Yuk, jangan ditunda lagi. Demi masa depan yang lebih baik dan melatih kita untuk disiplin mengatur keuangan. 

Pilih Reksa Dana Apa?

Melanjutkan postingan sebelumnya, kali ini saya akan membahas mengenai jenis reksa dana apa yang bagus buat dipilih dan belinya dimana. Berdasarkan jenisnya reksa dana dibagi tiga, reksa dana pendapatan tetap dan pasar uang, reksa dana campuran, dan reksa dana saham.

Sebelum memilih jenis reksa dana yang ingin Anda beli, Anda sebaiknya tahu profil resiko diri Anda. Profil resiko seseorang tersebut dapat Anda ketahui setelah Anda mengisi quesioner ketika Anda ingin membeli reksa dana, baik itu di Manajer Investasi atau pun di bank. Ini merupakan syarat wajib yang harus dilakukan sebelum seseorang membeli reksa dana.

Gambaran umumnya, kalau orang yang ingin dapat keuntungan tinggi dan tidak takut terhadap penurunan yang tinggi pula biasanya disarankan membeli reksa dana saham. Sedangkan orang yang tidak apa-apa mendapat keuntungan yang lebih kecil asalkan resiko penurunannya kecil, disarankan ambil reksa dana pendapatan tetap. Nanti, pihak MI dan Bank akan menjelaskannya kepada Anda. Namun, saran saya, jika memang uang investasinya dipakai lebih dari 3 tahun yang akan datang sebaiknya pilih reksa dana campuran atau saham.

Di tiap jenis reksa dana juga bermacam-macam lagi, misal reksa dana berdasarkan sektornya. Biasanya reksa dana sektoral ini merupakan reksa dana jenis campuran dan saham karena kan mengikuti sektor saham. Sektor saham sendiri terdiri dari :
  • Agrikultur
  • Pertambangan
  • Aneka industri
  • Barang konsumsi
  • Konstruksi
  • Infrastruktur
  • Keuangan
  • Jasa dan perdagangan
  • Manufaktur

Sebagai contoh, reksa dana saham konsumer, portofolio investasinya didominasi oleh saham-saham konsumer seperti Kalbe Farma (KLBF), Mayora Indah (MYOR), dan Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP). Selain berdasarkan sektoral, Manajer Investasi juga membuat produk reksa dana yang berisi saham-saham blue chip atau saham-saham yang berkapitalisasi besar. Ada pula yang kombinasi berbagai sektoral. Selain itu, juga ada reksa dana syariah, yang isi portofolionya merupakan saham-saham berbasih syariah.

Supaya lebih jelas dan reksa dana yang Anda pilih sesuai dengan keinginan, Anda harus baca prospektus terlebih dahulu. Pada umumnya, di tiap prospektus dan laporan produk reksa dana terdapat penjelasan rincian portofolio investasinya (porsi deposito, surat utang, dan saham). Biasanya dijelaskan lima saham yang memiliki porsi terbanyak. Kenapa hanya 5 saham dan tidak semuanya ? karena tiap MI punya dapur dan racikan portofolio reksa dana masing-masing.

Menurut saya, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam memilih reksa dana, khususnya reksa dana campuran dan saham antara lain :
  • Pilih reksa dana yang portofolionya terdiri dari saham-saham yang prospek pertumbuhannya bagus. Di lihat kondisi saat ini, sektor konsumsi, konstruksi, infrastruktur dan keuangan masih jadi sektor yang seksi. Karena pertumbuhan ekonomi Indonesia banyak ditopang dari konsumsi dalam negeri. Selain itu, pilih juga reksa dana yang terdiri dari saham-saham blue chip.
  • Lihat data historis kinerja reksa dana tersebut. Data tersebut bisa dilihat di prospektus produk reksa dana. Atau, agar lebih mudah membandingkan kinerja antar produk, bisa lihat di www.infovesta.com. Bisa juga pakai tools data milik www.kontan.co.id. Lihat bagaimana kinerja reksa dana tersebut dalam 1, 3 dan 5 tahun terakhir. Pilih yang kinerjanya bagus.
  • Kalau saya, cenderung memilih produk reksdana yang dimiliki oleh Manajer Investasi yang memiliki Asset Under Management (AUM) atau dana kelolaan yang besar, serta sudah lama berdiri. Pemilihan ini, lebih didasarkan atas pengalaman dan kepercayaan yang mereka peroleh dari investor.


Langkah terakhir dan tak kalah penting, jangan ragu apalagi malu untuk bertanya dengan pihak MI dan bank yang menjual reksa dana. Sebagai investor kita berhak mendapat penjelasan sebaik mungkin. Lantas, kalau Anda sudah memilih produk reksa dana yang ingin dibeli, langkah selanjutnya tentu membelinya. Jangan ditunda lagi. Semakin dini berinvestasi, semakin baik.  

Apa itu Reksa dana?

Sudah beberapa kali ini Saya dapat pertanyaan, “Reksa dana apaan sih? Keuntungannya apa?” Dan entah mengapa walau harus menjelaskan berulang kali, tapi saya selalu senang. Itu berarti kesadaran teman-teman tentang pentingnya berinvestasi semakin tinggi. Saya juga pemula dalam berinvestasi. Tapi, kali ini saya coba jelaskan berdasarkan pengalaman saya, baik dari praktik langsung ketika berinvestasi atau pun dari hasil belajar manajemen keuangan dan informasi dari sejumlah narasumber yang pernah saya wawancarai. Semoga bermanfaat.

Berdasarkan UU Pasar Modal, reksa dana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor) untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi. Portofolio efek tersebut bisa berbentuk deposito, surat utang negara, saham, obligasi, atau surat berharga lainnya.

Jadi, uang investor dihimpun dan dikelola oleh Manajer Investasi (MI). MI merupakan lembaga yang memiliki ijin dari Bapepam (Badan Pengawas Pasar Modal) kalau sekarang sama OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Jadi, badan yang bisa menghimpun dan mengelola dana masyarakat itu tidak sembarangan dan harus punya izin. Sekarang ini banyak yang menawarkan investasi dengan cara uang investor akan dikelola agar mendapat keuntungan. Coba teliti lagi bentuk lembaganya dan apakah sudah dapat izin resmi. Karena sekarang semakin pihak yang menawarkan investasi bodong.

Dan, jangan mau kalau ada orang atau pihak yang menjanjikan keuntungan investasi dengan nominal yang pasti. Misal, “Sini taro duit di gw, nanti lo dapet untung 100%”. Nah, itu patut dicurigai. Karena tidak ada produk investasi manapun yang bisa menjanjikan keuntungan yang melebihi deposito. Jadi sekarang harus lebih hati-hati dan ingat selalu prinsip investasi “HIGH RISK, HIGH RETURN”. Makin tinggi hasil keuntungan yang bisa didapat, makan semakin besar juga resiko gagalnya. 

Nah, sebelum masuk lebih jauh, kita coba pakai sudut pandang yang lebih luas supaya pemahaman soal reksa dana bisa lebih komplit. Reksa dana itu salah satu jenis investasi. Lantas,  Mengapa kita harus berinvestasi? Investasi itu penting untuk mendapatkan nilai tambah dari harta yang kita miliki agar tidak tergerus inflasi.

Apa sih inflasi? Inflasi adalah suatu keadaan dimana harga barang secara umum mengalami kenaikan secara terus menerus atau terjadi penurunan nilai uang. Contoh gampangnya, harga tempe, beras, tahu, dan rumah terus naik. Tapi apa kalau uang kita kalau kita diamkan selama dua tahun bisa naik nilainya? Justur, nilai uang kita malah berkurang.

Misal, dua tahun lalu harga beras Rp5000 per liter. Berarti beli beras Rp100 ribu bisa dapat 20 liter. Sekarang harga beras yang sama udah Rp10.000. Dengan uang Rp100 ribu kita hanya dapat 10 liter. Nah, kelihatan nyata kan kalau nilai uang yang kita miliki nilai rill-nya terus berkurang karena inflasi. Itu baru beras, belum yang lain, seperti pendidikan yang pertahunnya rata-rata naik 20%.

Nah, itulah sebabnya kita butuh investasi, bukan sekedar menabung. Tapi investasi juga jangan sembarangan. Bagi Anda yang ingin ingin berinvestasi, pertama-tama tanya dulu sama diri sendiri, investasi itu tujuannya untuk apa. Apa buat nikah, beli rumah, sekolah lagi, pensiun, atau kebutuhan lainnya. Dari tujuan itu, kita bisa ukur, kira-kira kita butuh waktu berapa lama ngumpulin duit dan investasinya supaya hasilnya maksimal. Misal mau beli rumah tiga tahun lagi, atau buat pensiun yang 20 tahun lagi.

Kalau sudah tahu investasinya untuk apa, baru deh pilih jenis investasinya. Investasi ada macam-macam, mulai dari yang jangka pendek sampai yang jangka panjang. Investasi jangka pendek, misalnya deposito, reksa dana. Investasi jangka panjang, seperti properti, emas, reksa dana, saham. Nah lo, jadi sebenernya reksa dana itu investasi jangka panjang atau pendek?

Jangka waktu investasi reksa dana dipengaruhi oleh portofolio investasi di dalam reksa dana itu. Reksa dana sendiri ada empat jenis, yaitu :
  1. Reksa dana pasar uang. Investasinya dilakukan pada efek bersifat utang yang jatuh temponya kurang dari 1 tahun.
  2. Reksa dana pendapatan tetap. Isinya setidaknya 80%-nya efek bersifat utang. Yang dimaksud efek bersifat utang, yaitu seperi deposito, obligasi, dan SUN. Nah, yang ini resikonya paling kecil tapi return atau hasil investasinya juga tidak terlalu besar. Biar begitu, returnnya masih di atas bunga deposito. Jangka waktu investasi sekitar 1 tahun. Mereka yang memilih jenis RD ini biasanya menginginkan tingkat keuntungan yang stabil.
  3. Reksa dana campuran. Pembagian kasar portofolionya 50% saham, 50% deposito, obligasi dan SUN. Tapi tiap produk beda-beda. Resikonya dan hasil investasinya juga lebih besar dari pendapatan tetap. Jenis reksa dana ini cocok buat Anda yang ingin dapat hasil investasi lumayan tapi juga tidak mau terlalu ambil resiko. Jangka waktu investasi 3-5 tahun. 
  4. Reksa dana Saham. Sekitar 80%nya saham, sisanya baru deposito, obligasi dll. Jenis sahamnya juga macam-macam. Jenis reksa dana ini resikonya yang paling besar, tapi hasilnya juga paling besar.  Reksa dana saham cocok buat Anda yang masih muda dan berani ambil resiko. Kenapa masih muda? Karena kan kalau ada apa-apa Anda masih punya waktu buat kerja dan nyari duit lagi. Beda sama orang yang udah umur 50 tahun dan duitnya buat pensiun. Kan kalau sahamnya anjlok, susah juga buat kerja lagi. Jangka waktu investasi diatas 5 tahun.
Catatan : Jangka waktu investasi tersebut ialah jangka waktu yang ideal untuk dapat return yang maksimal. Tapi, soal kepuasan atas return yang diperoleh kembali lagi pada tiap individu.

Jenjang resiko investasi itu gambaran umumnya : deposito - surat utang (obligasi) - saham. Makin ke kanan makin besar resikonya, makin besar potensi keuntungannya (High Risk, High Return). Kalau deposito kan udah pasti tuh dapet 10% misalnya. Tapi kalau saham, bisa naik sampai 50%, tapi bisa juga anjlok 50%.

Nah, enak kan dapet produk investasi komplit tanpa perlu pusing mikirin fruktuasi harga saham. Karena Manajer Investasi juga pasti berusaha mengelola produk reksa dana mereka supaya kinerjanya bagus. Toh makin mengkilap kinerja reksa dananya, makin banyak kan yang pengen beli reksa dananya.

Menurut saya, Reksa dana itu ibarat rujak. Beli sebungkus rujak, Anda dapat mangga, bengkoang, timun, nanas, jambu, dan sambel. Selain dapat buah bermacam-macam dengan harga murah, Anda juga tidak perlu ribet potong buahnya. Beli reksa dana, Anda bisa punya berbagai saham, punya deposito, dan punya surat utang. Anda juga tidak perlu pusing memikirkan fruktuasi harga saham yang hari ini bisa turun terjun bebas atau pun besok naik tinggi. Porsi berapa besar deposito, surat utang, saham itu urusan Manager Investasi. Anda tinggal pilih aja produk reksa dana yang kinerjanya bagus. (Liat pembahasan Pilih Reksa dana apa).

Lah terus untungnya beli reksa dana apa? Dan apa resikonya?

Keuntungan yang bisa diperoleh dari membeli reksa dana ialah kenaikan nilai Net asset value (NAV) atau Net aktiva bersih (NAB) per unit. Kalau beli saham kan per lot. Kalau reksa dana per unit. Sebagai simulasi, Anda beli reksa dana A dengan Net asset value (NAV) per unit Rp1000. Anda beli Rp 150.000, kan dapet 150 unit. Tiga tahun kemudian, NAB/Unit penyertaan reksa dana A Rp1400. Kalo Anda mau jual reksa dana A berarti Anda dapat Rp210.000 (150 xRp1400 = Rp 210.000).
Berarti dalam tiga tahun Anda dapat untung 40% --> (210.000-150.000)/150.000 x100% = 40%)

Namun, Namun, seperti jenis investasi lainnya, reksa dan juga memiliki resiko. Resikonya ialah berkurangnya nilai NAV per unit. Ini karena portofolio investasi reksa dana yang terdiri dari beragam produk efek pasar modal, dimana pasar modal juga terus berfluktuasi. Sebagai contoh, hari ini Reksa dana A naik 0,1%, besok naik 0.7%, besok turun 0,4%. Begitu seterusnya bergantung kondisi pasar.

Nah, itu sebabnya untuk mendapatkan hasil maksimal, sebaiknya reksa dana dilakukan untuk jangka panjang, khususnya untuk reksadana campuran dan saham. Karena secara historis, semakin lama jangka waktu investasi, maka hasilnya akan lebih maksimal.

Sebagai gambaran keuntungan dari reksa dana, berikut index reksa dana dari www.infovesta.com :

Index Reksa Dana
Index
1 tahun
3 tahun
5 tahun
Reksa dana Pendapatan Tetap
-4,67%
16,65%
46,31%
Reksa dana Pendapatan Campuran
-0,76%
15,56%
103,89%
Reksa dana Saham
-1,39%
17,75%
183.9 %

Sebagai catatan, kinerja masa lalu bukan acuan kinerja di masa depan. Karena kan situasinya juga berbeda. Tapi historis tidak pernah bohong. Salah satu indikator yang saya gunakan dalam memilih reksa dana itu ya dari bagaimana kinera masa lalunya.

Untuk tahu lebih jauh tentang bagaimana memilih reksadana dan beli dimana, silahkan baca :  Pilih Reksa dana Apa? dan Beli Reksa dana di mana?
Selamat bernvestasi.... J





Sunday, December 22, 2013

Tahun Politik, Bursa Lebih Cantik ?

Desember 2013, sebentar lagi akan berakhir. Tahun ini seakan jadi langit mendung bagi para investor di bursa saham. Ya, tahun ini bursa mengalami goncangan yang begitu hebat. Bahkan, IHSG yang sempat melejit hingga level Rp5200-an, harus melorot hingga 3800 di akhir Agustus. Investor asing menarik dana secara besar-besaran. Namun, perlahan bursa mulai bangkit. Jumat (20/12), IHSG ditutup di level Rp4195.

Jelas ini angka yang jauh dari harapan. Prediksi banyak analis di awal tahun ini yang memperkirakan bursa akan ditutup dikisaran Rp5000 pun harus patah. Mereka pun ramai-ramai mengoresi prediksi tersebut. Dengan kondisi seperti ini, banyak analis memprediksi bursa tahun ini hanya akan mencapai Rp4300.

Bursa saham Indonesia memang masih labil. Terlalu bergantung pada investor asing dan isu global. Lantas bagaimana bursa tahun depan?

Jika dihitung, IHSG sejak Mei 2013 hingga Desember 2013 sudah terdiskon lebih dari 20%. Bahkan, tak sedikit saham menarik yang banting harga. Bukankah, ini sebetulnya peluang bagus?

Banyak yang bilang "tunggu dulu lah, tunggu turun lagi." Tapi, ketika harga tiba-tiba naik, langsung panik. Bagi, Anda yang memang ingin berinvestasi jangka panjang tentu ini peluang bagus. Jika hitung-hitungan Anda masih ada kemungkinan harga saham akan turun, tapi takut tiba-tiba naik, Anda bisa melakukan cost averaging atau bagi yang masih memegang saham dan ingin menambah, bisa melakukan averaging down.

Dari diskusi dengan beberapa analis minggu lalu, semuanya sepakat kuartal I 2014 jadi momen yang tepat untuk akumulasi. Beberapa memprediksi IHSG di 2014 bisa tembus Rp4800-Rp5000. Tapi, tetap saja, angka bagus tersebut masih bergantung banyak hal. Mulai dari rupiah, kebijakan stimulus The Fed, data industri di China, pemulihan ekonomi Eropa dan lain-lain. Ya, maklumlah kita kan negara kaya yang masih bergantung sama orang luar. Kemandirian ekonomi belum Ada (kalau bahas ini panjang lagi.. nanti kesel sendiri).

Tapi salah satu yang paling berpengaruh di 2014 tentulah pemilu legislatif dan presiden. Dan kebanyakan analis optimis bursa bisa kinclong di 2014, apalagi kalau Jokowi yang jadi presidennya. Bahkan, investor asing juga ingin sekali Jokowi yang naik jadi presiden. Ada analis yang cerita, pernah ada fund manager dari Amerika yang datang ke suatu seminar di Jakarta hanya karena ingin melihat langsung sosok Jokowi.

Tahun politik memang menarik. Data historis menunjukan, di setiap tahun pelaksanaan pemilihan umum, performa bursa sangat mengkilap. Sepanjang 1999 bursa naik 70%, di 2004 naik 45%, dan di 2009 naik 87%.

Nah, tunggu apalagi. Waktunya akumulasi dan banyak berdoa tahun 2014 bisa secantik tahun politik sebelumnya.

Wednesday, October 16, 2013

Asuransi dan Investasi : Ibarat Rel Kereta

Ingin tenang saat ini dan nanti? Asuransi dan investasi jawabannya. Keduanya, sama penting dan saling melengkapi, namun harus dipisahkan.

Pilih asuransi atau investasi? Keduanya! Misalkan, Anda hanya membeli premi asuransi secara rutin namun tidak berinvestasi. Tanpa investasi Anda tak memiliki modal menjalani hari tua. Sebaliknya, investasi tanpa asuransi juga tak berarti. Anda yang sudah menyisihkan dana untuk investasi, kemudia tiba-tiba sakit lalu meninggal di usia muda. Toh, Anda tak bisa menikmati hasil investasi dan hasil investasi untuk keluarga pun belum optimal.

Meskipun keduanya penting, jangan satukan asuransi dengan investasi karena fungsinya yang berbeda-meskipun saat ini  produk asuransi sekaligus investasi (unitlink) tengah marak ditawarkan. Resiko dan biaya unitlink sangat tinggi. Hal ini disebabkan perusahaan asuransi harus melimpahkan kegiatan investasi ke perusahaan investasi (manager investasi).

Padahal, jenis investasi yang ada di unitlink, yaitu reksadana dapat dibeli langsung di manager investasi. Selain lebih murah -karena tanpa perantara, nasabah pun dapat mengetahui lebih detail portofolio di reksadana tersebut. Nasabah pun dapat dengan mudah mengubah portofolio apabila tidak puas dengan kinerjanya. Jelas lebih fleksibel dan hasilnya pun lebih maksimal.

Investasi memiliki orientasi untuk masa depan, berbeda dengan asuransi yang berfungsi sebagai proteksi. Terdapat berbagai jenis asuransi yang bisa dimiliki, yaitu asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan diri, asuransi kebakaran rumah, dan asuransi kendaraan. Kelimanya sebaiknya Anda miliki. Namun, apabila kondisi keuangan belum memenuhi semuanya atau Anda masih lajang, sebaiknya dahulukan asuransi kesehatan. Jika tempat Anda bekerja sudah menyediakan fasilitas asuransi kesehatan, Anda bisa memfokuskan ke jenis asuransi lain.

Setelah asuransi kesehatan, Anda bisa menambah asuransi jiwa. Kendaraan dan rumah juga sebaiknya diasuransikan. Sebab, jika terjadi sesuatu dan Anda tidak memiliki asuransi, dana investasi bisa terkuras. Hal ini tentu akan mengganggu rencana keuangan Anda.

Terdapat berbagai ragam dari tiap jenis asuransi. Untuk asuransi kesehatan, sebaiknya pilih untuk rawat inap tanpa rawat jalan. Selain premi rawat jalan yang lebih mahal, sakit ringan, seperti flu bisa ditangani sendiri dan murah.

Selain itu, terdapat asuransi penyakit kritis (critical illness insurance). Sebetulnya, asuransi kesehatan saja sudah cukup karena pada umumnya sudah mencakup penyakit kritis. Namun, pada asuransi penyakit kritis limit klaimnya lebih besar.

Persyaratan agar dana asuransi penyakit kritis bisa cair terbilang cukup berat. Untuk sakit ginjal misalnya, pemegang polis harus manjalani transplatasi ginjal dan cuci darah. Dengan kata lain, kondisi pemegang polis memang benar-benar kritis.

Ketimbang membayar premi yang lebih mahal untuk asuransi penyakit kritis, lebih baik premi tersebut untuk asuransi jiwa agar unit penyertaan yang diperoleh lebih tinggi. Anda pun dapat meninggalkan dana lebih besar bagi keluarga apabila Anda meninggal.

Dalam asuransi, baik kesehatan atau jiwa, Anda harus teliti mengisi surat permohonan asuransi (SPA). Jika ternyata, Anda memiliki riwayat penyakit sedangkan dalam SPA anda tidak menulisnya, maka klaim dan asuransi tidak akan bisa cair. Jadi, wajib untuk mengisi surat permohonan asuransi sendiri, tidak diwakilan orang lain. Anda pun harus teliti ilustrasi polis asuransi yang diberikan agen sebelum memutuskan membeli asuransi.

Namun, asuransi sebagai proteksi tak selamanya bisa diandalkan. Pada umumnya, perusahaan asuransi tak menerima permohonan asuransi bagi mereka yang telah lanjut usia. Bahkan, sekalipun Anda telah memiliki asuransi sejak muda dan membayar premi secara rutin, perusahaan asuransi bisa saja tidak memperpanjang polis karena Anda dianggap sudah tidak menguntungkan –biaya penyakit Anda melebihi premi yang Anda bayar. Perlu dipahami bahwa terdapat dua pihak yang bisa memutuskan atau memperpanjang polis asuransi, yaitu pemegang polis dan perusahaan asuransi.

Ketika asuransi tak lagi mau menerima Anda, investasilah yang jadi pegangan Anda. Dana kesehatan dihari tua bisa Anda peroleh dari hasil investasi yang telah Anda pupuk sejak muda. Untuk investasi jangka panjang, portofolio investasi properti, saham, dan reksadana bisa jadi pilihan.

Asuransi dan Investasi harus dilakukan sejak muda. Keduanya ibarat rel kereta api yang berjalan beriringan namun tak pernah bertemu. Keduanya menggiring Anda menuju kehidupan yang lebih nyaman.

Berikut adalah 8 pos pengeluaran :
  1. Zakat dan sedekah : 2,5-10%
  2. Utang                     : <30%
  3. Asuransi                 : <10%
  4. Investasi                 : 10-20%
  5. Pendidikan              : 10-15%
  6. Biaya hidup             : 60%.
  7. Rekreasi                  : <5%
  8. Hiburan (lifestyle cost) <5%

*besarnya disesuakan dengan kebutuhan dan profil resiko
  

Hasil wawancara dengan Freddy Pieloor, perencana keuangan dari Financial Planning and Consulting Money and Love. Wawancara oleh Resi Fahma G

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Fortune Indonesia Vol.71 (September 2013)

Bagaimana Pengantin Baru Merencanakan Keuangan?

Menyatukan dua orang yang berbeda menjadi satu dalam sebuah penikahan tentu butuh adaptasi, termasuk dalam merencakanan keuangan. Keterbukaan jadi kunci utama.

Menjadi pasangan suami istri berarti memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Untuk itu, pengantin baru harus memiliki perencanaan yang baik untuk masa depan. Butuh pengertian antar keduannya untuk menyatukan pandangan. Lantas bagaimana pasangan yang baru membina rumah tangga harus membangun fondasi keuangan, untuk saat ini dan masa yang akan datang?

·         Saling terbuka
Ketika menikah, Anda sudah menjadi satu kesatuan dengan istri/suami. Saat itulah Anda memiliki rencana yang lebih besar dari sekedar keinginan pribadi, yaitu keluarga. Untuk itu, butuh keterbukaan agar dapat mencapai tujuan bersama. Akan lebih baik, jika pasangan saling mengetahui penghasilan masing-masing. Dengan begitu, Anda telah memiliki angka sebagai fondasi awal merencanakan keuangan keluarga. Tak hanya, terbuka mengenai pemasukan. Pasangan juga harus saling terbuka mengenai pengeluaran pribadi masing-masing.
·         Bagi-bagi tugas
Pada umumnya, pos utama keluarga terdiri dari cicilan, pengeluaran rutin rumah tangga, pengeluaran pribadi, dan investasi. Sebaiknya, seluruh kebutuhan tersebut dikalkulasikan kemudian dibagi tugas siapa yang harus membayar. Untuk polanya bisa berbeda-beda tergantung kesepakatan bersama. Ada beberapa contoh, misal suami memberikan seluruh penghasilannya setelah dikurangi kebutuhan pribadinya untuk dikelola istri. Dalam hal ini, istri bertindak sebagai manager. Namun, bisa juga keduanya mengambil peran, misal, suami membayar cicilan, istri membayar keperluan rutin. Mengenai nominalnya disesuaikan dengan kesepakatan.
·         Tentukan Prioritas
Alokasi pengeluaran dan investasi keluarga, yaitu berkisar 40% untuk pengeluaran rutin keluarga, 30% untuk cicilan, 20% keperluan pribadi, dan 10% investasi. Jika memiliki tujuan yang lebih banyak tentu harus lebih banyak menabung dan investasi. Namun, sebelumnya Anda harus bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan jangka panjang. Misal, apakah sudah butuh membeli mobil sekarang atau sebaiknya nanti setelah punya Anak? Contoh lain, apakah masih bisa tinggal di rumah mertua atau memang sudah harus tinggal di rumah sendiri?
·         Satu Akun untuk Tujuan Bersama
Untuk mempermudah mencapai tujuan bersama, sebaiknya pasangan memiliki akun rekening bersama yang memang khusus untuk keperluan keluarga. Misal, untuk dana darurat dan dana pensiun.  
·         Ubah Pola Hidup
Tentu terjadi perubahan dari yang semula masih lajang dan kini menjadi suami/istri. Nah, alangkah baiknya Anda juga mengubah pola atau gaya hidup demi mencapai tujuan yang lebih besar. Misal, mengurangi frekuensi nonton film di bioskop dan memilih nonton film di rumah, atau lebih sering masak dan makan bersama dirumah. Selain bisa menghemat, juga bisa menambah keharmonisan.
·         Investasi dari Sekarang!
Jangan takut memulai berinvestasi. Karena itu adalah salah satu penghambat tercapainya tujuan keuangan keluarga. Jika Anda masih takut memulai berinvestasi, mulailah dari investasi dengan resiko yang rendah atau mulai dari nominal yang kecil. Anda bisa mulai berinvestasi reksa dana dan emas. Kini sudah ada produk reksa dana Rp200 ribu.

Selian itu, jangan takut untuk mulai memikirkan berbagai kebutuhan dan rencana jangka panjang, seperti sekolah anak, naik haji, bahkan hingga menikahkan anak. Dengan begitu, Anda memiliki motivasi lebih besar untuk berinvestasi. Makin cepat memulai semakin  baik, terlebih sejak belum memiliki anak. Jadi, mari mulailah berinvestasi dari sekarang!

Hasil wawancara dengan Tejasari, CFP. Tejasari merupakan Independent financial planner Tatadana Consulting. Wawancara oleh Resi Fahma G

Tulisan ini pernah dimuat di rubrik wealth Adviser, majalah Fortune Indonesia Vol.65 (Juni 2013)

Memapankan Investasi di Usia Mapan

Karir yang terus menanjak  jadi kondisi ideal untuk berinvestasi. Namun, bagaimana menjaga konsistensi berinvestasi di tengah kebutuhan yang juga terus bertambah?

Memasuki usia 30, seseorang biasanya sedang menapaki jenjang karir yang lebih tinggi. Dengan penghasilan yang semakin tinggi, porsi pemasukan untuk investasi juga berpeluang semakin bertambah. Namun, di usia tersebut pada umumnya seseorang telah berkeluarga, yang berarti memiliki tanggungan yang lebih besar. Kebutuhan biaya, seperti untuk biaya sekolah anak dan renovasi rumah, bisa jadi ancaman bagi kantong investasi.

Jika sudah begitu, bukan tidak mungkin konsistensi berinvetasi yang telah dilakukan sejak lama bisa terganggu. Untuk mengatasi hal tersebut, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan, antara lain :
  • Tentukan Niat awal berinvestasi. Anda harus memiliki tujuan awal untuk apa investasi dilakukan, misal untuk beli mobil. Dengan begitu Anda akan lebih termotivasi dengan apa yang dicita-citakan.
  • Ketahui tenggang waktu dan uang yang dibutuhkan. Dengan mengetahui tujuan investasi, maka Anda bisa mengetahui tenggang waktu untuk dapat memperoleh uang yang dibutuhkan. Dengan begitu, portofolio investasi dapat dipilih dengan tepat. Misal, untuk investasi jangka panjang sekitar di atas 3 tahun, Anda dapat memilih reksadana saham.
  • Sisihkan dana investasi di Awal. Sebelum penghasilan Anda terpakai untuk memenuhi kebutuhan, sebaiknya langsung potong 20% pendapatan untuk investasi. Misal, satu atau dua hari setelah gajian.
  • Tetap sesuaikan antara kebutuhan dan alokasi investasi. Apabila membutuhkan pengeluaran tiba-tiba ataupun kebutuhan tambahan di luar kebutuhan inti, Anda bisa menggunakan dana cadangan. Namun, jika ternyata dana cadangan belum bisa menutup kebutuhan tersebut, Anda bisa mengurangi jumlah investasi Anda. Tapi, dengan catatan Anda memilih produk investasi yang dapat memberi imbal hasil yang lebih tinggi sehingga tetap dapat memenuhi target investasi.

Saat semakin mapan, seseorang harus lebih berhati-hati mengalokasikan pendapatannya untuk kebutuhan. Pendapatan yang semakin tinggi tersebut hendaknya disisihkan juga untuk kehidupan di masa yang akan datang.


Hasil wawancara dengan Eko Endarto, perencana keuangan Financia Consulting. Wawancara oleh Resi Fahma G. 

Tulisan pernah dimuat di majalah Fortune Indonesia Vol.55 (Desember 2012)

Membuat Investor Lokal Menikmati Manisnya Reksa Dana

Bursa saham Indonesia terus menunjukan performa mengkilap. Kinerja rata-rata IHSG sepanjang 2012 tercatat sebesar 12,9%. Meskipun kondisi ekonomi global belum sepenuhnya stabil, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sebagian besar ditopang dari konsumsi dalam negeri membuat IHSG tetap mampu bergeliat di tengah hembusan gangguan angin global.

Namun, pertumbuhan positif tersebut justru lebih banyak dirasakan oleh investor asing dengan kepemilikan saham di bursa hingga 58%. Sedangkan jumlah investor lokal masih sangat minim, yakni sekitar 400 ribu rekening efek.

Minimnya pengetahuan menjadi penyebabnya. Meski mengetahui imbal hasil saham cukup tinggi, namun masih banyak masyarakat yang takut karena berinvestasi di saham dinilai memiliki resiko yang lebih besar. Padahal, investor ritel juga bisa menikmati manisnya kinerja bursa domestik tanpa harus pusing menghadapi fruktuasi  saham.

Priscilla Audy (25) misalnya, sudah setahun belakangan ini ia membeli reksa dana saham. Menurutnya, reksa dana saham memiliki kinerja yang bagus tanpa ia harus pusing dan terlalu ambil resiko seperti membeli saham secara langsung. “Kenapa beli reksa dana ya karena dalam lima tahun ke depan mau DP rumah. Ya dapetnya dari investasi ini,” ujar Audy yang melakukan pembelian unit penyertaan reksa dana secara reguler tiap bulan di dua perusahaan Manajer Investasi.

Berdasarkan data index reksa dana PT Infovesta Utama dalam tiga tahun terakhir (16 April 2010-16 April 2013), pertumbuhan reksa dana saham mencapai 46%, reksa dana campuran 36%, dan reksa dana pendapatan tetap 32%.

Vilia Wati, analis PT Infovesta Utama mengatakan reksa dana saham masih menjadi pilihan menarik untuk berinvestasi. Menurutnya, tahun ini reksa dana saham berpeluang mencatat pertumbuhan 11% hingga 15%. Sedangkan reksa dana pendapatan tetap 5-7%, dan reksa dana campuran 8-12%.

Berinvestasi di reksa dana kini relatif lebih mudah dan murah. Sejumlah manajer investasi telah menyajikan produk yang dapat dibeli mulai dari Rp100 ribu. Michael Tjoajadi, Chief Executive Officer PT Schroder Investment Management Indonesia mengatakan berinvestasi di reksa dana secara reguler merupakan salah satu cara bagi investor ritel untuk mempersiapkan kebutuhan finansial di masa yang akan datang.

Namun, sayangnya, ketidaktahuan masyarakat mengenai reksa dana jadi penyebab rendahnya penetrasi reksadana di Indonesia. Lebih dari itu, edukasi tentang reksadana harus dilakukan secara mendalam meningat produk reksdana tidak terlepas dari resiko. “Jumlah populasi kita 240 juta orang. Orang yang bankable itu 60 jutaan orang. Yang investasi di reksadana baru 300 ribuan. Jadi potensinya masih besar kan,” ujarnya.

Total dana kelolaan reksa dana atau asset under management (AUM) saat ini sebesar Rp189,2 triliun, per Maret 2013. Jumlah ini jauh lebih kecil dibandingan instrument investasi perbankan deposito, yang mencapai  Rp1.381 triliun per Desember 2012.

Ruang lapang industri reksadana untuk tumbuh menjadi ajang unjuk gigi para manajer investasi (MI) dalam memikat nasabah. Ya, return reksadana yang memuaskan menjadi daya tarik utama bagi produk reksa dana.

Michael Tjoajadi, pimpinan manajer investasi terbesar di Indonesia mengamini hal tersebut. Menurutnya, dibutukan tactical asset allocation yang tepat dalam mengelola reksadana, yakni perpindahan dari saham, pasar uang, dan obligasi. “Dan pintar-pintar memilih stock yang bagus dan murah. Jangan yang bagus dan mahal, apalagi jelek mahal,” ujarnya yang masih menjadikan saham-saham bluechip sebagai penopang kinerja reksadana.

Untuk dapat mencetak performa reksa dana yang mengkilap jelas dibutuhkan sumber daya manusia yang kompeten. Baginya, intergrity, value dan loyalty dari sumber daya manusia jadi kunci terpenting dibalik keberhasilan perusahaan. “Kita memiliki keunggulan dibandingkan dengan yang lain. Rata-rata pekerja kita itu kurang lebih telah bekerja 9 tahun di perusahaan ini,“ tuturnya.

Schroder saat ini menjadi MI dengan dana kelolaan reksa dana terbesar di Indonesia sebesar Rp38,9 triliun per Maret 2013. Dana kelolaan terbesar kedua yaitu perusahan MI asing lainnya PT BNP Paribas Investment Partners sebesar Rp26,7 triliun.

Ya, selain investor asing yang menguasai bursa, MI asing di Indonesia juga memiliki porsi penguasaan dana kelolaan yang besar. 16 MI asing yang ada menguasai sekitar Rp 111,73 triliun atau 59% dari total kelolaan dana sebesar Rp 189,2 triliun per Maret 2013.

Pengalaman serta sistem yang ada di perusahaan dalam mengelola dana menjadi modal utama yang membuat MI asing mampu memperoleh dana kelolaan reksa dana yang tinggi. Selain itu, menurut Muhammad Hanif, Direktur Utama PT Mandiri Manajer Investasi (MMI), MI asing memiliki kerjasama yang baik dengan bank asing. “Mereka sudah punya global agreement, sehingga prosesnya lebih mudah saat due dilligent,” ujarnya.

Pertumbuhan nasabah retail reksadana melalui bank asing terbilang lebih baik dibandingkan dengan bank domestik. Hal ini disebabkan bank asing memang fokus pada fee based income, sedangkan bank lokal lebih terkonsentrasi pada funding.

Meskipun begitu, gairah Manajer Investasi lokal terus menunjukan tren positif. PT MMI misalnya, perusahaan yang berdiri tahun 2004, kini telah memiliki AUM Rp17,8 triliun. Perusahaan MI lokal dengan dana kelolaan terbesar itu mampu tumbuh 152% dalam empat tahun.

Dalam melakukan strategi investasi, secara berkala perusahaan setiap tiga bulan melakukan rapat komite investasi untuk melihat kondisi pasar dan membuat outlook, serta memutuskan strategi investasi, seperti memilih sektor dan melakukan rebalancing.

Seperti halnya Schroder yang menghindari sektor komoditas pada tahun ini. MMI juga lebih fokus masuk ke sektor konsumsi dan infrastruktur. Faktor fundamental menjadi fondasi utama dalam memilh emiten. “Kita lihat global pengaruhnya kepada kita. Tapi kayanya ngga terlalu besar juga. Karena ekonomi kita kan 60-70 persen itu kan dipacu oleh konsumsi dalam negeri,“ imbuh pria yang ingin menjadikan MMI sebagai MI terbesar di Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.

Untuk meningatkan penjualan unit penyertaan reksa dana, perusahaan berencana melebarkan sayap ditribusi. Hingga saat ini perusahaan  telah bekerjasama dengan 13 bank untuk menjual reksadana. Selain itu, MMI akan mendirikan kantor perwakilan di Surabaya, Medan dan Bandung dalam beberapa tahun mendatang. Tahun ini perusahaan yang memiliki 50 karyawan tengah melakukan penerimaan pegawai baru.


Tantangan mengembangkan industri reksa dana sebetulnya tak hanya meningkatkan jumlah investor ritel reksadana. Melainkan juga menambah jumlah perusahaan yang melantai di bursa saham. Hingga saat ini terdapat 466 perusahaan terbuka. Bandingkan dengan jumlah perusahaan terbuka di India yang lebih dari 5000 perusahaan.  Jumlah ini, menurut Michael Tjoajadi masih dibawah potensi yang sebenarnya. “Dengan lebih banyak company, lebih banyak investor. Perekonomian kita akan bisa lebih giat. Idealnya kita bisa 1000-2000 perusahaan,” ujarnya.


Oleh Resi Fahma G

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Fortune Indonesia Vol.62 (Terbit minggu pertama dan kedua Mei 2013)